Logo SantriDigital

Ilmu dan amal

Khutbah Jumat
B
Bistami
5 Mei 2026 5 menit baca 2 views

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ...

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Duhai saudara-saudaraku, kaum muslimin yang dirahmati Allah... Dengarkanlah, pada hari yang mulia ini, jiwa-jiwa kita dipanggil untuk merenung, merenungi perjalanan hidup yang begitu singkat ini. Betapa banyak waktu yang telah kita sia-siakan, betapa banyak kesempatan yang berlalu begitu saja tanpa kita petik manfaatnya. Hati ini seringkali lalai, tertipu oleh gemerlap dunia yang fana, hingga lupa pada hakikat penciptaan kita. Kita dicipta untuk beribadah, namun seringkali kita terjebak dalam kesibukan yang melenakan, dalam dosa yang menumpuk tanpa kita sadari. Betapa sedih hati ini, ketika kita memikirkan diri ini di hadapan Allah Yang Maha Agung, dengan bekal yang begitu sedikit, sementara dosa-dosa kita merayap bagai bayangan di kegelapan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 77). Ayat ini mengingatkan kita, bahwa dunia dan akhirat haruslah kita imbangi. Namun, seringkali kita hanya terfokus pada kenikmatan dunia, hingga melupakan bekal menuju keabadian. Betapa lemahnya diri ini, betapa rapuhnya iman ini, ketika godaan dunia begitu mudah menjauhkan kita dari-Nya. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Islam kita dibangun di atas dua pilar utama yang tak terpisahkan: ilmu dan amal. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kita, sedangkan amal adalah perwujudan dari pemahaman yang kita miliki. Tanpa ilmu, amal kita bisa tersesat, ibarat berjalan tanpa arah di tengah kegelapan malam. Dan tanpa amal, ilmu kita bagaikan pohon yang tak berbuah, hanya menjadi hiasan yang sia-sia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Sungguh janji yang luar biasa dari Allah, namun berapa banyak dari kita yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, bukan sekadar menumpuknya di kepala tanpa mengamalkannya? Kita seringkali merasa bangga dengan gelar, dengan pengetahuan yang kita kumpulkan. Namun, apakah ilmu itu telah mampu mengubah hati kita menjadi lebih khusyuk dalam ibadah? Apakah ia telah mengantarkan kita untuk lebih takut kepada Allah, dan lebih merindukan pertemuan dengan-Nya? Atau justru ilmu itu menjadi kesombongan yang menjauhkan kita dari rahmat-Nya? Betapa banyak orang berilmu, namun lisannya masih menyakiti sesama, tangannya masih berbuat zalim, dan hatinya masih dipenuhi penyakit iri dengki dan benci. Inikah ilmu yang sesungguhnya? Ilmu yang tidak beradab, ilmu yang tidak berakar pada ketakwaan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Allah, sementara kita enggan untuk belajar tentang-Nya? Bagaimana mungkin kita mengaku rindu surga, sementara kita malas untuk beramal shalih yang mengantarkan kita ke sana? Betapa pedih hati ini meratap. Dosa-dosa mulai menggunung, waktu terus bergulir, dan kita masih saja terbuai dalam kelalaian. Seringkali kita membaca Al-Qur'an, namun maknanya luput dari perenungan. Kita mendengar ayat-ayat tentang azab, namun hati kita tak bergetar karena takut. Kita mendengar ayat-ayat tentang rahmat, namun tak ada gairah untuk berlomba meraihnya. Seolah-olah kita ini bukan hamba yang punya dosa, seolah-olah kita ini aman dari murka Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang sangat menyayat hati, yang artinya: "Sesungguhnya akan ada di akhir zaman nanti, orang-orang yang mencari ilmu agama, namun mereka tidak mencarinya demi menggapai keridhaan Allah, dan mereka tidak mencarinya kecuali untuk mendapatkan dunia. Mereka akan mendapatkan dunia, namun mereka tidak akan mendapatkan kenikmatan surga." (HR. Ibnu Majah). Sungguh ancaman yang mengerikan, saudara-saudaraku. Ilmu yang kita cari justru menjerumuskan kita ke dalam neraka, jika niat kita bukan karena Allah. Lantas, bagaimanakah posisi kita saat ini? Wahai diri, wahai hati yang lalai, bangkitlah! Sadarlah! Sebelum datangnya penyesalan yang tak mungkin terobati. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu yang membuat kita semakin takut kepada-Nya, semakin tunduk pada perintah-Nya, dan semakin sabar atas cobaan dari-Nya. Dari ilmu itulah lahir amal yang ikhlas, amal yang tulus, amal yang mengharapkan ridha-Nya semata. Mari kita renungi lagi. Berapa banyak amal yang kita lakukan hari ini yang benar-benar karena Allah? Berapa banyak shalat kita yang khusyuk, puasa kita yang dijaga dari kemaksiatan, sedekah kita yang tulus tanpa riya'? Betapa sering hati ini berbisik, menipu diri sendiri dengan amal-amal yang seolah-olah banyak, padahal receh di hadapan Allah karena tidak dilandasi ilmu dan keikhlasan. Ayat yang selalu harus kita ingat, firman Allah Ta'ala: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pengikut rasul) tidak beriman sampai mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (keputusan itu) dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65). Ini menunjukkan bahwa keimanan yang hakiki adalah saat kita tunduk pada ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengamalkannya tanpa keraguan. Marilah kita menangisi diri kita sendiri, menangisi kelalaian kita, menangisi dosa-dosa kita yang membekas di lembaran amal kita. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Jangan biarkan hati ini menjadi batu yang tak tersentuh. Mari kita usahakan, sebisa mungkin, untuk selalu menuntut ilmu yang diridhai Allah, dan mengamalkannya dengan tulus. Sekecil apapun ilmu yang kita dapatkan, mari hadirkan dalam amal nyata. Sedikit kebaikan yang ikhlas, lebih baik daripada banyak amal yang sia-sia. Teruslah memohon kepada Allah agar dianugerahi ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, dan akhir hidup yang baik. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi. Ya Allah, jadikanlah ilmu kami cahaya, dan amal kami penolong di akhirat kelak. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →